WFH DAN ARSIPARIS

Ditulis oleh: Medinfo

15 April 2020

Beberapa dari anda yang melakukan pekerjaan dari rumah atau WFH (Work From Home) mungkin tidak mengetahi sudah berapa lama anda #DiRumahAJa atau bahkan anda sudah tidak tahu hari apakah hari ini? Sejak diberlakukannya kebijakan mengenai WFH, kini kita telah memasuki minggu ke empat. Sudahkah anda merasa bosan berada di rumah? Kebijakan WFH ditetapkan untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19. Pemerintah menghimbau masyarakat untuk berada di dalam rumah jika tidak ada sesuatu yang mendesak. Namun, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah seperti supir, dokter, pekerja pabrik, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan arsiparis? Secara umum arsiparis ditugaskan untuk mendokumentasikan dan menyimpan informasi tentang masyarakat, organisasi atau perusahan baik masa lalu maupun masa kini untuk digunakan pada masa mendatang. Di waktu normal arsiparis melakukan pengorganisasian dan mendeskripsi arsip-arsip. Menata rapi arsip-arsip agar mudah untuk dicari kembali. Tidak sampai disitu arsiparis juga melakukan pemeliharaan dan perawatan pada koleksinya. Dari sini terlihat bahwa arsiparis tidak bisa bekerja jika terlepas dari materi koleksinya. Memang ada beberapa arsiparis daerah di Indonesia yang masih datang ke depo untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa. Tentu saja mereka tidak datang setiap hari. Mereka melakukan pembagian jadwal kerja (Shift) dua hari libur dan dua hari masuk dalam seminggu. Mereka bekerja dari Jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Berbeda dengan Indonesia, beberapa arsiparis di luar negeri melakukan pekerjaannya dari rumah. Seperti salah satu arsiparis Western History/Genealogy Central Library, Laura Ruttum Senturia. Pada berita yang ditulisnya yang di publikasikan 9 April lalu, menceritakan kegiatannya selama bekerja dirumah. Laura dan teman-teman sedang melakukan pemindahan data arsip yang telah di digitalisasi pada bantuan pencarian yang lama ke pencarian baru agar pengguna dapat mengakses koleksi mereka dari rumah.  Berbeda dengan Laura, seorang arsiparis dari Glyndyfrdwy, Wales bernama Lisa Heledd Jones berusaha untuk mendokumentasikan dan mengelola setiap kegiatan yang dilakukan masyarakat selama pandemic ini. Menurutnya penggunaan sosial media sebagai suatu cara untuk mendokumentasikan momen tertentu berbeda dengan menulis buku harian atau merekam entri dimana anda focus pada apa yang anda pikirkan dan rasakan pada saat itu juga. “But there really, really isn’t any story too small for an archive. In fact, what we’ve learned from archives over the years is that, unfortunately, often, they are filled with people who thought they had something interesting to say and not enough people who had something about their every day. So women’s diaries for generations have been destroyed because people didn’t think there was anything relevant in them. And right now, what we’re going through, it’s – there’s been nothing like it.” – Lisa Heledd Jones Saat ini Jones memiliki contributor dari Australia, Jerman, Italia, Norwegia, Perancis, dan Amerika serikat yang dengan sukarela menyumbangkan momen-momen nya. Jones mengundang orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk mengirimkan gambar, suara, video, foto, atau catatan ke strangetimestories@gmail.com. Jones berharap keinginannya menjadi lebih global karena virus tidak tahu apa-apa mengenai perbatasan. Created by : Bernika Dwi H. Y (Litbang HIMADIKA) Sumber : https://history.denverlibrary.org/news/how-do-archivists-work-home https://www.npr.org/2020/03/21/819439633/welsh-archivist-documents-ordinary-people-in-extraordinary-times

Tulisan kami yang lainnya:

Magang di KEMENDES

Serunya Magang di KEMENDES Bisa bekerja di pemerintahan pusat mungkin adalah hal yang tidak mudah, tidak semua orang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: