Pada hari Sabtu, 16 Maret 2019 telah terlaksana diskusi sekaligus nobar di rumah baca Prof.Taryo. Tempat yang sama namun dengan orang yang berbeda. Ya diskusi kali ini diramaikan oleh mahasiswa yang tergabung dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Indonesia), HIMADIKA, dan HMKI (Himpunan Mahasiswa Kearsipan Indonesia). Turut hadir juga Ibu Musliichah selaku dosen praktisi Kearsipan dan Prof. Taryo selaku dokter di RSUP Dr.Sardjito sekaligus guru besar UGM, beliau berdua merupakan narasumber acara diskusi sekaligus nobar kali ini. Acara diskusi dan nobar berlangsung selama 2 jam dengan MC oleh Sharas dari HMKI dan Moderator oleh Dito dari GMNI. Diskusi dan nobar kali ini mengangkat tema “Melacak Jejak Revolusi di Indonesia”.

Acara diskusi dan nobar dibuka dengan pemutaran film yang berjudul “Sardjito Dalam Lukisan Revolusi”, sementara itu Prof. Taryo juga sambil menjelaskan dan menambahkan dari bagian-bagian film ke audien, sehingga para audien dapat lebih memahami film tersebut. Seperti yang kita ketahui Sardjito adalah pendiri sekaligus Rektor pertama UGM. Mungkin jika kita menilik lebih dalam tentang Sardjito, kita akan tahu kalau Sardjito berlatar belakang seorang dokter. Lalu apa hubunganya Sardjito dengan Revolusi? Ya pasti kita juga bertanya-tanya dan hanya tahu kalau sardjito hanyalah seorang dokter yang mendirikan UGM dan menjadi Rektor pertamanya. Dalam film tersebut di ceritakan bagaimana perjuangan Sardjito pada masa Revolusi sehingga beliau menjadi sosok yang penting pada masa Revolusi. Perjuangan Sardjito berawal dari Bandung dengan mengambil alih Institut Pasteur Bandung yang merupakan pabrik vaksin yang rutin memberikan vaksin dan serum kepada masyarakat sipil dan tentara, dan mendirikan PMI (Palang Merah Indonesia) pertama. Dari Bandung perjuangan Sardjito berlanjut ke Klaten, ia memindahkan aset-aset Institut Pasteur dan PMI ke Klaten dengan Kereta Api dan bergabung dengan markas komando jawa di Klaten, bersamaan dengan dijadikanya Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia sementara. Hebatnya, Sardjito berhasil menyelundupkan vaksin untuk menghindari blockade dan mengelabuhi musuh dengan cara yang cerdik yaitu dengan menyimpan vaksin pada kulit perut kerbau yang digiring sampai ke Klaten. Sesampainya di Klaten Sardjtio berperan penting dalam menyediakan makanan bagi para tentara dan juga mendirikan beberapa rumah sakit dan posko PMI.  Selain itu Sardjito juga mendirikan beberapa sekolah tinggi di Klaten yang menjadi cikal bakal fakultas-fakultas yang ada di UGM saat ini.

Dari film tersebut kita bisa belajar, bahwa kita sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan atau ilmu di bidang tertentu tak lupa untuk mengimplementasikanya untuk membantu sesama, seperti halnya Sarjdito walupun seorang dokter tapi beliau tetap bisa ikut serta dalam perjuangan revolusi hingga menjadi sosok yang penting dalam perjuangan revolusi. Acara diskusi dan nobar kali ini diharapakan dapat memotivasi dan membakar semangat kaum muda khususnya mahasiswa untuk meneladani semangat Sardjito dalam berjuang sehingga mungkin bisa melahirkan Sarjdito-Sardjito muda yang dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik.

 

%d bloggers like this: