Sabtu, 6 April 2019 Himpunan Mahasiswa Kearsipan Indonesia(HIMADIKA) bersama Dibalik Bingkai, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI), dan Himpunan Mahasiswa Kearsipan Indonesia(HMKI) telah mengadakan acara NOBAR DAB yang ke-5 di Ruang 225 Sekolah Vokasi UGM. Tema yang diangkat kali ini adalah tentang riwayat demokrasi yang ada di Indonesia. Tentu saja tema ini diangkat dikarenakan mendekati pelaksanaan pesta demokrasi Indonesia yaitu pada tanggal 17 April 2019. Acara yang diawali dengan nonton bareng film yang berjudul “Sang Idola”. Film ini mengisahkan tentang seorang filsuf hukum yang sangat terkenal dan pendiri fakultas filsafat di UGM yaitu Notonagoro. Berkat jasanya, seluruh mahasiswa di Indonesia mempelajari ilmu filsafat sebagai mata kuliah.

Selain itu juga ditayangkan film yang berjudul “Reformasi Dibajak 1” dan “Reformasi Dibajak 2”. Kedua film ini mengisahkan perjalanan reformasi di Indonesia. Salah satu cuplikan film yaitu tentang sumpah jabatan presiden dari masa Presiden Soeharto hingga masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam film ini juga ditampilkan masalah-masalah apa saja yang terjadi selama perjalanan menuju reformasi di Indonesia.

Setelah diadakannya nobar atau nonton bareng, dilaksanakan diskusi bareng bersama Mbah Noto, Dosen Fakultas Hukum UGM dan dimoderatori oleh Nicko Mardiansyah, DPC GMNI. Diskusi kali ini menarik karena para audiens diajak untuk memahami lebih dalam apa hakikat dari demokrasi.

Sebenarnya yang kita tegakkan demokrasi atau keadilan?

Apakah pemilu hanya menyenangkan orang-orang barat?

Apa perbedaan demokrasi dan kedaulatan rakyat?

Dalam memaknai perbedaan demokrasi dan kedaulatan, Mbah Noto memaparkan ketika dalam ruang sunyi kita memikirkan rakyat itulah yang dinamakan kedaulatan, namun ketika kita berada di luar ruangan berhadapan langsung dengan rakyat itulah yang dinamakan demokrasi.

Dari NOBAR DAB #5 ini kita belajar bahwa belajar tidak perlu di ruang khusus, namun bisa secara bebas dimana saja. Selain itu, menurut Mbah Noto, arsip itu berharga layaknya menjaga sebuah harta karun pada sebuah lumbung dan profesi arsiparis adalah profesi yang luar biasa karena mampu menjembatani antara teks dan konteks.

Created by Litbang HIMADIKA

%d bloggers like this: